Kamis, 04 Oktober 2012

PRILAKU KEKERASAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba dkk, 2008). Menurut Stuart dan Laraia (1998), perilaku kekerasan dapat dimanifestasikan secara fisik (mencederai diri sendiri, peningkatan mobilitas tubuh), psikologis (emosional, marah, mudah tersinggung, dan menentang), spiritual (merasa dirinya sangat berkuasa, tidak bermoral). Perilaku kekerasan merupakan suatu tanda dan gejala dari gangguan skizofrenia akut yang tidak lebih dari satu persen (Purba dkk, 2008).
Perilaku kekerasan merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. WHO (2001) menyatakan, paling tidak ada satu dari empat orang di dunia mengalami masalah mental. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Pada masyarakat umum terdapat 0,2 – 0,8 % penderita skizofrenia dan dari 120 juta penduduk di Negara Indonesia terdapat kira-kira 2.400.000 orang anak yang mengalami gangguan jiwa (Maramis, 2004 dalam Carolina, 2008). Data WHO tahun 2006 mengungkapkan bahwa 26 juta penduduk Indonesia atau kira-kira 12-16 persen mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta orang (WHO, 2006).
Berdasarkan data yang diperoleh seorang peneliti melalui survey awal penelitian di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara bahwa jumlah pasien gangguan jiwa pada tahun 2008 tercatat sebanyak 1.814 pasien rawat inap yang keluar masuk rumah sakit dan 23.532 pasien rawat jalan. Pada tahun 2009 tercatat sebanyak 1.929 pasien rawat inap yang keluar masuk rumah sakit dan 12.377 pasien rawat jalan di rumah sakit tersebut. Sedangkan untuk pasien rawat inap yang menderita skizofrenia paranoid sebanyak 1.581 yang keluar masuk rumah sakit dan 9.532 pasien rawat jalan.
Pasien gangguan jiwa skizofrenia paranoid dan gangguan psikotik dengan gejala curiga berlebihan, galak, dan bersikap bermusuhan. Gejala ini merupakan tanda dari pasien yang mengalami perilaku kekerasan (Medikal Record, 2009).
Peran perawat dalam membantu pasien perilaku kekerasan adalah dengan memberikan asuhan keperawatan perilaku kekerasan. Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan pasien, keluarga dan atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Keliat dkk, 1999).
Berdasarkan standar yang tersedia, asuhan keperawatan pada pasien perilaku kekerasan dilakukan dalam lima kali pertemuan. Pada setiap pertemuan pasien memasukkan kegiatan yang telah dilatih untuk mengatasi masalah kedalam jadwal kegiatan. Diharapkan pasien akan berlatih sesuai jadwal kegiatan yang telah dibuat dan akan dievaluasi oleh perawat pada pertemuan berikutnya. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan akan dinilai tingkat kemampuan pasien dalam mengatasi masalahnya yaitu mandiri, bantuan, atau tergantung. Tingkat kemampuan mandiri, jika pasien melakukan kegiatan tanpa dibimbing dan tanpa disuruh, tingkat kemampuan bantuan, jika pasien sudah melakukan kegiatan tetapi belum sempurna dan dengan bantuan pasien dapat melaksanakan dengan baik, tingkat kemampuan tergantung, jika pasien sama sekali belum melaksanakan dan tergantung pada bimbingan perawat.












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993).
Perilaku kekerasanadalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif (Stuart dan Sundeen, 1995).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan ( Townsend, 1998 ).
Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis ( Budi Ana Keliat, 1999 ).
Perilaku kekerasan adalah perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. Individu dapat merusak diri sendiri, orang lain, dan lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1998 ).

2.2Penyebab Perilaku Kekerasan
Perilaku kekerasan / amuk dapat disebabkan karena frustasi, takut, manipulasi atau intimidasi. Perilaku kekerasan merupakan hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan. Perilaku kekerasan juga menggambarkan rasa tidak aman, kebutuhan akan perhatian dan ketergantungan pada orang lain. Pada klien gangguan jiwa, perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya perubahan sensori persepsi berupa halusinasi, baik dengar, visual maupun lainnya. Klien merasa diperintah oleh suara-suara atau bayangan yang dilihatnya untuk melakukan kekerasan atau klien merasa marah terhadap suara-suara atau bayangan yang mengejeknya.
Faktor presipitasi bisa bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula dengan kritikan yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang dicintai / pekerjaan dan kekerasan merupakan faktor penyebab. Interaksi sosial yang provokatif dan konflik dapat pula memicu perilaku kekerasan ( Stuart dan Sundeen, 1998 ).

2.3  Pohon Masalah

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan


 



Perilaku kekerasan / amuk
 


                                                      Marah

Halusinasi


 


Stress

2.4  Manifestasi Klinis
Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien dibawa ke rumah sakit adalah perilaku kekerasan di rumah. Menurut Boyd dan Nihart ( 1998 ), klien dengan perilaku kekerasan sering menunjukkan adanya tanda dan gejala sebagi berikut:
1.      Data Objektif :
1)      Muka merah
2)      Pandangan tajam
3)      Otot tegang
4)      Nada suara tinggi
5)      Berdebat
6)      Sering pula tampak klien memaksakan kehendak
7)      Merampas makanan, memukul jika tidak senang
2.      Data Subjektif
1)      Mengeluh perasaan terancam
2)      Mengungkapkan perasaan tidak berguna
3)      Mengungkapkan perasaan jengkel
4)      Mengungkapkan adanya keluhan fisik, berdebar-debar, mersa tercekik, dada sesak, binggung.
Sedangkan  menurut (Budiana Keliat, 1999) tanda dan gejala perilaku kekerasan dapat berupa:
1)      Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
2)      Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
3)      Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
4)      Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
5)      Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya ).
Sedangkan menurut pendapat lain perilaku kekerasan ditandai dengan :
1.      Memperlihatian permusuhan, dengan ciri fisik :
1)      Mata melotot/pandangan tajam
2)      Tangan mengepal
3)      Rahang mengatup
4)      Wajah memerah
5)        Postur tubuh kaku
2.      Mendekati orang lain dengan ancaman
3.       Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai seperti :
1)      Mengumpat dengan kata-kata kotor
2)       Suara keras
3)       Bicara kasar, ketus



4.       Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan seperti :
1)      Menyerang orang
2)      Melukai diri sendiri/orang lain
3)      Merusak lingkungan
4)       Amuk/agresif
5.      Mempunyai rencana untuk melukai

2.5  Penatalaksanaan Secara Medis
Beberapa obat yang sering digunakan untuk mengatasi perilaku agresif diantaranya :
  1. Anti ansietas dan hipnotik sedatif contohnya : Diazepam (valium).
  2. Anti depresan, contohnya Amitriptilin.
  3. Mood stabilizer, contoh : Lithium, Carbamazepin.
  4. Antipsikotik, contoh : Chlorpromazine, Haloperidol dan Stelazine.
  5. Obat lain :Naltrexon, Propanolol.

2.6  Penanganan (Keperawatan)
Ada tiga strategi tindakan keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan, disesuaikan dengan sejauh mana tindakan kekerasan yang dilakukan oleh klien. Strategi tindakan itu terdiri dari :
1.      Strategi preventif : terdiri dari kesadaran diri, penyuluhan klien dan latihan asertif.
2.      Strategi Antisipasi : terdiri dari komunikasi, perubahan lingkungan, tindakan perilaku dan psikofarmakologi.
3.      Strategi pengekangan, terdiri dari manajemen krisis, pengasingan dan pengikatan.
1.      Penyuluhan
Klien perlu disadarkan tentang cara marah yang baik serta bagaimana berkomunikasi merupakan cara yang efektif untuk mencegah terjadinya perilaku kekerasan. Bahwa marah bukan suatu yang benar atau salah, harus disadari oleh klien. Untuk itu dari penyuluhan klien untuk mencegah perilaku kekerasan berisi :

1.      Bantu klien mengidentifikasi marah.
2.      Berikan kesempatan untuk marah.
3.      Praktekkan ekspresi marah.
4.      Terapkan ekspresi marah dalam situasi nyata.
5.      Identifikasi alternatif cara mengeksprasikan marah.

2.      Latihan Asertif
Latihan asertif bertujuan agar klien bisa berperilaku asertif yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Berkomunikasi langsung dengan orang lain.
2.      Mengatakan tidak untuk permintaan yang tidak beralasan.
3.      Mampu menyatakan keluhan.
4.      Mengekspresikan apresiasi yang sesuai.
Tahap latihannya meliputi :
1.      Diskusikan bersama klien cara ekspresi marah selama ini.
2.      Tanyakan apakah dengan cara ekspresi marah tersebut dapat menyelesaikan masalah atau justru menimbulkan masalah baru.
3.      Jelaskan cara-cara asertif.
4.      Anjurkan klien untuk memperagakannya.
5.      Anjurkan klien untuk menerapkan asertif dalam situasi nyata.


2.7  Cara Mengatasi Marah (Peran Serta Keluarga Dalam Merawat Klien
Yang Melakukan Perilaku Kekerasan)
Cara umum dapat diarahkan pada berbagai aspek :
  1. Fisik : menyalurkan marah melalui kegiatan fisik seperti lari pagi, angkat berat, menari, jalan-jalan,olah raga,relaksasi otot
  2. Emosi : mengurangi sumber yang menimbulkan marah, misalnya ruangan yang terang,sikap keluarga yang lembut
  3. Intelektual : mendorong ungkapan marah, melatih terbuka terhadap erasaan marah, melindungi dan melaporkan jika amuk
  4. Sosial : mendorong klien yang melakukan cara marah yang konstruktif (yg telah dilatih di rs)pada lingkungan
  5. Spritual :bantu menjelaskan keyakinan tentang marah, meingkatkan kegiatan ibadah
Cara khusus yang dapat dilakukan keluarga pada kondisi khusus :
1)      Berteriak menjerit, memukul
2)      Terima marah klien, diam sebentar
3)      Arahkan klien untuk memukul barang yang tidak mudah rusak (bantal, kasur)
4)      Setelah tenang diskusikan cara umum yang sesuai
5)      Bantu klien latihan relaksasi (latihan fisik, olah raga)
6)      Latihan pernafasan 2 kali/hari, tiap kali sepuluh kali tarikan dan hembusan nafas
7)      Berikan obat sesuai dengan aturan pakai
8)      Jika cara satu dan dua tidak berhasil, bawa klien konsultasi ke pelayanan kesehatan jiwa puskesmas, unit psikiatri RSU, RS. Jiwa)
9)      Sedapat mungkin anggota keluarga yang melakukan perilaku kekerasan sedapat mungkin jangan diikat atau dikurung.





2.8  Asuhan Keperawatan
2.8.1        Pengkajian 
1.      Identitas klien
2.      Alasan masuk biasanya berperilaku aneh berupa marah-marah tanpa sebab,
menyakiti diri sendiri dan orang lain serta merusak lingkungan.
3.      Faktor predisposisi
1)      Riwayat kelahiran dan tumbuh kembang
2)      Riwayat pendidikan
3)      Riwayat pekerjaan
4)      Penggunaan waktu luang
5)      Hubungan antar manusia
6)      Tindakan anti sosial
7)      Penyakit yang pernah diderita
8)      Riwayat gangguan jiwa di masa lalu
9)      Pengobatan sebelumnya
10)  Kekerasan dalam keluarga
11)  Trauma karena aniaya fisik atau tindakan kriminal
4.      Apakah ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
5.      Apakah ada pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
6.      Bagaimana keadaan fisik klien secara umum
Suhu, nadi, tensi, pernafasan, TB, BB serta keluhan fisik lainnya
7.      Bagaimana kondisi psikosoial klien
Genogram keluarga, konsep diri klien, hubungan sosial klien, spiritual
klien
8.      Bagaimana status mental klien
Penampilan, pembicaraan, aktivitas motorik, alam perasaan, afek, interaksi selama wawancara, persepsi klien, proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran,  memori, tingkat konsentrasi dan berhitung, kemampuan penilaian daya tilik diri.
9.      Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
10.  Kemampuan klien dalam kegiatan kehidupan sehari-hari
11.  Kebersihan diri klien
12.  Nutrisi klien
13.  Tidur atau istirahat klien
14.  Apakah klien memiliki sistem pendukung
15.  Apakah klien menikmati saat bekerja, atau saat melakukan hobi
16.  Mekanisme koping adaptif atau maladaptif
17.  Apakah klien memiliki masalah psikososial atau lingkungan
18.  Bagaimana pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit jiwa.

2.8.2        Diagnosa Keperawatan
1.      Resiko tinggi kekerasan berhubungan dengan adanya gangguan proses pikir
2.      Gangguan sosialisasi berhubungan dengan hambatan komunikasi verbal
3.      Resiko tinggi melukai orang lain berhubungan dengan ketidakmampuan
mengontrol diri
4.      Koping keluarga inefektif berhubungan dengan kurangnya kemampuan
merawat amuk.
2.8.3        Rencana Keperawatan
1.      Kekerasan resiko tinggi berhubungan dengan adanya gangguan proses pikir
            Tujuan Jangka Pendek :
   Klien mempertahankan agitasi pada tingkat yang dapat dikendalikan sehingga tidak menjadi kekerasan pada waktu lain.
Tujuan Jangka Panjang :
Klien tidak membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan saat di rumah sakit maupun di rumah.
Intervensi :
1.      Bangun kepercayaan dengan klien
1)      Jangan mengemukakan alasan, berdebat atau menentang waham
2)      Yakinkan klien bahwa dia berada dalam keadaan aman dan tidak berbahaya
3)      Jangan tinggalkan klien sendiri
4)      Sarankan klien untuk mengungkapkan perasaannya
5)      Tunjukan penerimaan terhadap kebutuhannya seperti membicarakan pengalaman yang memicu timbulnya waham
6)      Tetap tenang
Rasional : Menghindari kecurigaan dan menumbuhkan kepercayaan atau keterbukaan
2.      Kaji tingkat ansietas klien
Rasional : Dengan mengenali perilaku ini perawat dapat mengatasi sebelum kekerasan terjadi.
3.      Kaji sensori yang menimbulkan keinginan untuk melakukan kekerasan                                         
Rasional : Mengetahui tentang perubahan isi pikiran yang menimbulkan perubahan perilaku.
4.      Jangan menerima atau mengkritik isi pikir klien yang salah
Rasional : Akan mengurangi kepercayaan dan memunculkan konflik antar klien perawat yang dapat menghambat hubungan terapeutik
5.      Pertahankan tingkat rangsang yang rendah pada lingkungan klien
Rasional : Ansietas meningkat pada rangsangan yang tinggi
6.      Singkirkan objek yg berpotensi membahayakan
            Rasional : Dalam keadaan disorientasi, klien dapat menggunakan objek ini untuk tindakan kekerasan
1.      Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan hambatan komunikas
verbal
            Tujuan jangka pendek :
   Klien mengembangkan hubungan saling percaya dengan staf, mengajak interaksi dengan staf
   Tujuan jangka panjang :
Klien dengan sukarela mau melakukan aktivitas kelompok bersama klien yang lain dan staf. Klien juga dapat menahan diri untuk tidak melakukan perilaku egosentris yang menyinggung orang lain dan tidak mendukung suatu hubungan saat pulang
Intervensi :
2.      Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan klien
            Rasional : Membentuk persepsi klien agar merasa berharga atau dihargai
3.      Kembangkan hubungan terapeutik melalui kontak yang sering, singkat
dan menerima
Rasional : Kehadiran, penyampaian dan penerimaan menolong meningkatkan harga diri atau kepercayaan klien
4.      Ajak klien untuk melakukan aktivitas kelompok, berikan klien kesempatanmengambil keputusan sendiri untuk meninggalkan kelompok
Rasional : Memberikan rasa aman secara emosional kepada klien
5.      Berikan umpan balik langsung dari interaksi yang telah dilakukan klien
dengan orang lain
Rasional : Untuk mengubah perilaku klien kearah positif
6.      Ajarkan tehnik asertif dan cara berespon serta ketrampilan dalam melakukan
hubungan dengan orang lain
Rasional : Pengetahuan tentang teknik asertif dapat meningkatkan hubungan klien dengan orang lain

















DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, EGC, Jakarta, 2007

Keliat, B. A., Proses Keperawatan KesehatanJiwa, EGC, Jakarta, 1999

Rawlins, R.P. & Patricia Evans Heacock, Clinical Manual of Psychiatric Nursing, Second Edition, Mosby Year Book, St. Louis, 1993

Stuart, G.W. & Michele T. Laraia, Principles and Practice of Psychiatric Nursing, Sixth Edition, Mosby Company, St. Louis, 1998

Towsend, Mary C., Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri Untuk Pembuatan Rencana Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta, 1998

Stuart,  G. W. & Sandra J. Sundeen, Principles and Practice of Psychiatric Nursing, First Edition, Mosby Company, St. Louis, 1995

CMHN (2006) Modul Pelatihan Asuhan Keperawatan Jiwa Masyarakat. Jakarta : Direktorat Kesehatan Jiwa Dep-Kes RI
Keliat, B.A. (1994) Gangguan konsep Diri, Jakarta: EGC
Towsend, M.C. (1998) Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri Untuk Pembuatan Rencana Keperawatan, Jakarta: EGC
Stuart GW, Sundeen SJ. (1998) Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Stuart, G.W and Sundeen. (1995) Principle and practice of psychiatric nursing. 5thed. St Louis Mosby Year Book.
Stuart. G.W and Laraia. Principle and practice of psychiatric nursing.7thed. St Louis. Mosby Year Book. 2001.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar